Asal Muasal dan Sejarah Bandung

Hasil gambar untuk kota bandung

Hari ini adalah hari jadi ke-208 Kota Bandung dan Pada 25 September 1810, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels mengumumkan suatu hal penting tentang pembangunan sarana dan prasarana.

Kota Bandung mulai sebagai daerah pemukiman sejak pemerintah kolonial Hindia Belanda. Maka hari ini diabadikan sebagai hari jadi Kota Bandung.

Sejarah Kota Bandung

Sejarah kota Bandung dimulai dengan Legenda Sangkuriang, yang menceritakan bagaimana danau terbentuk di Bandung dan Gunung Tangkuban Perahu.

Air dari danau Bandung menurut legenda, mulai mengering karena mengalir melalui gua yang disebut Sanghyang Tikoro.

Situ Aksan adalah area terakhir dari sisa-sisa Danau Bandung yang telah kering. Pada tahun 1970-an itu masih menjadi danau pariwisata, sampai sekarang telah menjadi daerah pemukiman untuk pemukiman.

Kota Bandung secara geografis terlihat dikelilingi oleh pegunungan, dan ini menunjukkan bahwa di masa lalu kota Bandung memang merupakan danau atau danau.

Pada tahun 1896 Bandung belum ditetapkan sebagai kota dengan populasi 29.382 orang, sekitar 1.250 warga Eropa, yang sebagian besar adalah Belanda.

Pada 1 April 1906, Kota Bandung secara resmi menerima status gemeente (kota) dari Gubernur Jenderal J.B. van Heutsz dengan luas sekitar 900 ha. Pada tahun 1949, itu meningkat menjadi 8.000 ha.

Selama perang kemerdekaan, 24 Maret 1946, bagian kota dibakar oleh pejuang kemerdekaan sebagai strategi perang.

Acara ini dikenal sebagai Bandung Lautan Api dan diabadikan dalam lagu Halo-Halo Bandung. Kemudian, kota Bandung ditinggalkan oleh beberapa warga yang mengungsi ke daerah lain.

Asal usul nama “Bandung”

Sementara itu, terkait kata bandung terdapat beberapa versi yang kemunculan kata “Bandung” yang kini juga dijuluki sebagai Parijs Van Java.

Bandung berasal dari kata bendung atau bendungan karena terhalang oleh sungai Citarum oleh lava Tangkuban Perahu yang kemudian membentuk sebuah danau. Legenda yang menceritakan “Bandung” diambil dari kendaraan air yang terdiri dari dua perahu yang diikat berdampingan disebut perahu Bandung.

Perahu ini digunakan oleh Bupati Bandung, RA. Wiranatakusumah II, untuk menavigasi Citarum mencari kursi distrik baru untuk menggantikan ibukota lama di Dayeuhkolot.

Ada juga sejarah kata “bandung” dalam bahasa Indonesia, identik dengan kata “banding” yang berarti berdampingan.

Ngabanding (Sunda) berarti berdampingan atau berdekatan. Sementara itu, berdasarkan filosofi Sunda, kata “bandung” berasal dari ungkapan “Nga-Bandung-Banda Indung,” yang merupakan kalimat suci dan luhur karena mengandung nilai ajaran Sunda.

Kata Bandung memiliki nilai filosofis sebagai alam di mana semua makhluk hidup dan benda mati yang lahir dan hidup di Tanah Air yang keberadaannya disaksikan oleh Yang Maha Kuasa.

Julukan Kota Bandung

Selain sejarah kota Bandung, kota ini juga memiliki beberapa nama panggilan yang biasa disebut oleh masyarakat.

Pertama adalah julukan Kota Kembang. Istilah kota kembang berasal dari peristiwa yang terjadi pada tahun 1896 ketika Manajemen Hebat Asosiasi Pengusaha Perkebunan Gula, Bestuur van de Vereninging van Suikerplanters yang berbasis di Surabaya memilih Bandung sebagai tempat kongres pertama mereka.

Bpk. Jacob menerima masukan dari Meneer Schenk untuk menyediakan “bunga-bunga indah” dalam bahasa Belanda-Belanda dalam bentuk “noni cantik” dari area perkebunan Pasir Malang untuk menghibur para pengusaha gula.

Kongres dikatakan sukses besar. Dari mulut peserta kongres, istilah dalam bahasa Belanda berasal dari De Bloem der Indische Bergsteden atau “bunga” dari sebuah kota pegunungan di Hindia Belanda.

Dari situlah muncul julukan kota Bandung sebagai kota bunga.

Kota Bandung dijuluki Parisj Van Java. Dalam Autobiografi Entin Supriatin, berjudul Deritapun Can Conquered, disebutkan bahwa Bandung dikenal sebagai Parijs Van Java atau Paris of Java.

Istilah Parijs van Java muncul karena pada waktu itu di Jalan Braga, ada banyak toko yang menjual barang-barang yang diproduksi oleh Paris, terutama toko pakaian.

Toko-toko terkenal termasuk toko fashion dan pakaian, Modemagazinj ‘au bon Marche’ yang menjual gaun fashion wanita Paris.

Selain itu, ada restoran makanan khas Paris Maison Bogerijen yang berfungsi sebagai tempat bagi pejabat dan pengusaha Hindia Belanda atau Eropa. Julukan lain muncul untuk kota Bandung sebagai Parijs van Java.

Istilah Bandung Lautan Api juga sering disebut sebagai nama panggilan untuk kota Bandung.

Pada bulan Maret 1946, dalam waktu tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk mengukir sejarah dengan membakar rumah dan properti mereka, meninggalkan kota Bandung menuju pegunungan di selatan.

Bandung sengaja dibakar oleh Tentara Indonesia (TRI) dan orang-orang dengan maksud bahwa Sekutu tidak bisa lagi menggunakannya.

Bandung Lautan Api kemudian menjadi istilah yang terkenal setelah insiden pembakaran.

Almarhum Jenderal Agung A.H Nasution mengingat pertemuan di Regentsweg (sekarang Jalan Dewi Sartika), setelah kembali dari pertemuannya dengan Sutan Sjahrir di Jakarta, untuk memutuskan tindakan apa yang akan diambil terhadap Bandung setelah menerima ultimatum Inggris.

Istilah Bandung Lautan Api juga muncul di harian Suara Merdeka pada 26 Maret 1946.

Seorang jurnalis muda saat itu, yaitu Atje Bastaman, menyaksikan adegan pembakaran Bandung dari bukit-bukit Gunung Leutik di sekitar Pameungpeuk, Garut. Dari puncak, Atje Bastaman melihat Bandung memerah dari Cicadas ke Cimindi.

Setelah tiba di Tasikmalaya, Atje Bastaman dengan penuh semangat segera menulis berita dan memberi judul Bandoeng Djadi Laoetan Api.

Namun, karena kurangnya ruang untuk menulis judul, berita utama disingkat menjadi Bandoeng Laoetan Api.

Sekarang julukan Bandung Lautan Api digunakan sebagai nama stadion internasional di wilayah Gedebage, sebelah timur kota Bandung: Stadion Pusat Olahraga Api Lautan Api Bandung (GBLA). ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *